Contoh Jadi

Contoh Jadi

Sebuah contoh pengelolaan dana masyarakat yang cerdas – karena mengolah orang sebagai makhluk ber-otak, bermoral, berbudaya dan bersosial – adalah Credit Union a la Pancasila, yang secara lokal di Kalimantan Barat diberi nama Credit Union Gerakan a la Konsepsi Filosopi Petani,. “Credit Union Gerakan” (CUG), CUG sendiri merupakan perkembangan lebih lanjut, kendati malah kembali ke khittah Credit Union di Jerman dulu, yang oleh Francis Wahono diberi nama  “Credit Union Modern” (lihat: Amu Langu Lingu, 2012). Sebenarnya dengan istilah tersebut dimaksudkan kalau proses kembali ke khittah itu semu belaka, yang benar menjadi semakin dikelola seperti bank, mengikuti logika uang, bukan logika orang. Itu salah kaprah sebagai  bank-yang seolah-olah. “Perjalanan kembali ke khittah kooperasi dan bangkit secara baru” (tindakan transformatif), yang penuh cerita heroik dari para aktivisnya, itu tak lain adalah penemuan kembali kooperasi di jaman Kapitalisme tingkat tinggi.

Semestinya kembali ke khittah itu terjadi kalau kooperasi sebagai gerakan menjadi Kooperasi a la pemikiran Mohammad Hatta, yang banyak didedah oleh Prof Teko Sumodiwirjo pada tahun 1950-an. Mengikuti Mohammad Hatta, untuk menjadi sebuah Gerakan kemerdekaan, kedaulatan dan kemakmuran rakyat, kooperasi sebagai wujud demokrasi-ekonomi berazas kekeluargaan (bdk. Pasal 33, UUD 1945) harus mejalankan Tri-Edukasi: pendidikan sosial, pendidikan ekonomi dan pendidikan politik (bdk. Mohammad Hatta). Kooperasi, yang ditandai dengan sifat pokok  “gerakan” dengan prinsip pengelolaan dan cita-cita Pancasila. Maka kooperasi tersebut bukan lembaga keuangan per se, tetapi utamanya adalah perkumpulan orang-orang yang disatukan oleh niat bergerak bersama dalam semangat kekeluargaan guna menciptakan sistem demokratis yang adil guna menggapai cita-cita kesejahteraan dan keberadaban.

Sekali lagi, ini adalah perkumpulan orang, bukan uang. Bila pun ada uang terlibat, yang utama dan pertama bukan kegiatan mengumpulkan uang dari masyarakat luas, tetapi mengumpulkan orang guna membuat sistem mengelola uang secara bijak dari para anggota perkumpulan.  Uang yang disisihkan dari sebagian penghasilan anggota tersebut, bukan dipinjamankan pada masyarakat luas, tetapi dipakai bekerja dan hidup produktif oleh para anggotanya. Yang diharapkan ialah, agar dengan bekerja produktif dan layak, nilai tambahnya akan semakin meningkatkan kualitas hidup anggotanya, antara lain dapat mencukupi kebutuhan dasar hidup dan berkembangnya sebagai manusia berharkat. Maka, sebagaimana di negara-negara surga kooperasi, kooperasi termasuk kooperasi kredit bebas membayar pajak. Perkumpulan orang-orang tidak pernah ditarik pajak.

Simpanan dan Pinjaman yang berupa uang, karena hanya beredar dalam diri kelompok, semestinya tidak ditarik pajak. Yang ditarik pajak adalah uang yang sudah menghasilkan nilai tambah, yakni yang sudah diputar oleh anggota kelompok dalam bisnis atau transaksi uang dengan pihak non-anggota koperasi, dengan pihak luar lingkaran koperasi. Jadi dibedakanlah uang berpindah tangan dalam diri kelompok dan uang yang beredar karena bisnis dan transaksi dari anggota kelompok dengan orang di luar anggota kelompok. Yang pertama bebas pajak, yang kedua bisa dipajak.[Dikutip dari sebagian kecil bagian Pendahuluan naskah buku Kooperasi Kredit – Credit Union- Zaman Now, forthcoming 2019 karya Francis Wahono].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.